Skip to main content

Featured

Cinema Spells | Review Film The Medium 2023: Pengamatan yang Berujung Pembantaian

Source: iMDb / Poster Official The Medium Sebelumnya saat review film Gonjiam: Haunted Asylum aku sempat menyinggung film found-footage yang memiliki kengerian yang sama. Yup, The Medium (2021) yang sama mengerikan dan membuat merinding. Memang efeknya tidak sedramatis Gonjiam: Haunted Asylum yang meninggalkan trauma tersendiri. Akan tetapi film satu ini sangat cukup meninggalkan kengerian dan punya plot menarik karena sedari awal kita dibuat penasaran dengan apa yang sebenarnya tengah terjadi. SYNOPSIS Film ini berawal dari kru dokumenter yang awalnya ingin meliput kehidupan seorang dukun (dukun perempuan) bernama Nim di wilayah Isan, Thailand. Nim terpilih menjadi medium bagi dewa lokal bernama Bayan , posisi yang sebenarnya dulu ditolak oleh kakaknya, Noi . Namun, fokus kamera beralih saat mereka melihat keponakan Nim yang bernama Mink (Narilya Gulmongkolpech) mulai menunjukkan perilaku aneh. Awalnya kru dokumenter meliput Mink karena mereka menduga Mink sedang dalam proses tr...

Cinema Spells: Review Film The 100th Love With You (Sahabat, Cinta & Pahitnya Takdir)

“A future without you is meaningless to me”

Film yang rilis tahun 2017 lalu ini bisa jadi film romantis yang klise, akan tetapi entah mengapa ketika menontonnya—aku merasa telah menemukan suatu bentuk nyata dari kumpulan plot random yang pernah terlintas dalam ingatan. Terasa otentik dan orisinal meski bukan film time-travel berkedok romance yang pertama kali ada.

Seingatku, Kimi to 100 Kaime no Koi adalah salah satu dari empat film Jepang Live-Action pertama yang baru kutonton seumur hidup—setelah Paradise Kiss, Attack on Titan, dan Death Note. Aku tetarik untuk menonton film tersebut setelah diberi rekomendasi dari teman online yang mengatakan bila film ini bisa jadi inspirasi untukku yang memang gemar menulis.

Awalnya, aku meragukan film tersebut, apalagi aku biasa menonton film yang merupakan adaptasi dari manga atau anime yang kutahu betul alurnya. Namun karena kata-kata temanku ini begitu meyakinkan, akhirnya aku menontonnya juga.

Sayangnya, emosi dalam cerita ini tak sekuat itu untuk membuatku menangis. Rasa sesak dan sedih itu memang sempat menyiksa, akan tetapi hanya sekejap. Aku dibuat kagum dengan karakter yang dimainkan Miwa, seolah Aoi ini cerminan dari wanita loveable sesungguhnya. Pun Riku yang gentle dan ketulusannya yang sempat membuatku iri.

SYNOPSIS
Film ini diawali dengan keseharian Aoi—gadis manis yang sedikit ceroboh—di kampus serta band yang dibentuknya bersama empat member lain, yakni: Naoya, Tetsuta, Riku, dan Rina sebagai manager. Mereka diketahui tengah menyiapkan diri untuk suatu event di mana mereka akan tampil secara live. Diketahui juga, Aoi menyukai Riku sejak lama—sahabat yang sudah menemaninya 15 tahun terakhir.

Aoi mengenal Riku sebagai sosok yang sempurna tanpa kekurangan atau kelemahan sedikitpun, kepribadiannya yang tampak apatis dan selalu serius itu tak memadamkan semangat Aoi untuk tetap mencintainya dalam diam. Salah satu sahabat Aoi, Rina, yang juga merupakan tim kreatif di bandnya terus menyarankan Aoi untuk menyatakan perasaannya pada Riku sebelum ia pindah ke luar negeri. Namun Aoi tak begitu mengindahkannya dan bilang bila ia bahagia-bahagia saja dengan posisinya saat ini. Sementara di lain sisi, Riku berubah dan kerap menyendiri di perpustakaan, padahal ujian sudah terlaksana dan hari di mana mereka tampil akan segera tiba.

Suatu hari, ketika semua anggota band kecuali Riku tengah makan di salah satu resto sushi, Naoya tidak sengaja menyatakan bila ia menyukai Aoi. Jelas semua orang terutama Rina terkejut, namun Aoi memutuskan untuk tetap mempertahankan status mereka sebagai teman.

Aoi yang selama ini menahan diri dan berusaha terus tersenyum dengan segala perlakuan apatis Riku, kecewa saat mendapati Riku yang tampak tak peduli bila ia menjalin hubungan dengan Naoya. Karena tak tahan lagi, ia memutuskan untuk pergi setelah mengemasi barangnya dan menghentikan latihan mereka berdua tanpa mengatakan apa-apa. 

Masalah diperumit ketika tiba-tiba Rina menyatakan bila Aoi harus menyatakan rasanya pada Riku. Mendapati Aoi terdiam, Rina pun menambahkan jika alih-alih menggantungkannya lebih baik Aoi menolak Naoya saja. Saat Rina pergi dari hadapannya dengan murka, barulah Aoi sadar jika selama ini Rina menyukai Naoya. Pikiran Aoi semakin keruh saja.

Hari H saat mereka pentas tiba, hubungan antar anggota band sedang tidak baik. Mereka saling berdiam diri dan Aoi merasa hampa ketika Rina tak kunjung menampakkan diri. Namun apa pun yang terjadi mereka harus tetap tampil, the show must go on, maka mereka naik panggung dan mulai bersiap untuk bernyanyi.

Aoi kehilangan fokusnya, bahkan dari bagian awal ia berhenti beberapa kali dan hanya menunduk dengan berbagai keresahan yang memenuhi kepalanya. Tatkala mereka sepenuhnya selesai, dengan rasa kecewa Aoi berlari keluar dari sana dan menyusuri jalan raya. Ia sempat berhenti untuk menyeka air matanya, akan tetapi satu lipatan kertas terjatuh dari sapu tangannya. Melihat hal itu, cepat-cepat Aoi berusaha memungutnya, namun kertas tersebut terus tersempar ke sana-kemari sampai saat tubuhnya terhantam oleh truk putih yang melaju tanpa sepengetahuannya.

Aoi terbangun, kembali dalam kelasnya seminggu sebelum 31 Juli pukul 18.10—detail kematiannya saat itu. Aoi bingung saat hal-hal yang selanjutnya terjadi benar-benar serupa dan ia merasa bila semuanya mustahil jika hanya mimpi belaka, karena ia mengingat semua detailnya. Rasanya seperti dejavu yang begitu nyata.

Saat akhirnya Aoi menyatakan pada Riku kejanggalan yang ia rasa, Riku pun turut menyampaikan rahasia yang ia simpan selama ini. Ternyata—15 tahun silam ketika keduanya baru 5 tahun, saat Riku menghibur Aoi yang sedang bersedih akan rusaknya piring hitam kesayangan Ayahnya—Riku tak benar-benar bisa bermain gitar. Ia mengulang waktu berkali-kali dengan piring hitam yang merekam kehidupan manusia, demi memainkan gitar di hadapan Aoi dan membuatnya tersenyum lagi. Awal di mana Riku berjanji untuk merayakan ulang tahun Aoi sampai kali ke seratus.

Piring hitam ajaib itu juga yang jadi alasan mengapa Riku selalu melakukan semua hal dengan sempurna, guna membuat Aoi kagum padanya.

Karena sudah saling menyatakan perasaan, maka keduanya memutuskan untuk kembali ke musim panas tahun lalu dan menjalin hubungan. Hari demi hari mereka penuh kasih dan cinta, Riku kira semua akan baik-baik saja, tapi rupanya apa pun yang ia coba lakukan sebagai bentuk pencegahan, Aoi tetap berakhir meninggal dunia di tanggal 31 Juli pukul 18.10.

Penuh ambisi, Riku terus mengulang waktu untuk membuat Aoi bertahan dan tetap ada di sisinya, tak peduli berapa ratus kali ia akan mencoba dan mengulanginya. Aoi yang tak tahu-menahu mengenai waktu yang terus Riku ulang demi mempertahankannya, akhirnya tahu setelah mendengar penjelasan seorang gadis dari fakultas lain. Dengan sengaja pula, ia membuka dan melihat buku hitam Riku. Buku yang menunjukkan coret-coretan tinta biru yang pada akhirnya selalu menjelaskan kematiannya. Aoi tahu bila nasibnya tidak bisa diubah, sama seperti kekasih paman Riku yang takdirnya pun tak bisa diubah karena sudah garisnya.

Pada akhirnya, Aoi merusak piring hitam yang dapat memutar waktu itu dan mengatakan bila mereka harus menerima skenario yang diberi oleh Yang Maha Kuasa. Riku justru mengatakan bila hidup tanpa Aoi itu tidak berarti, kenyataan itu membuat hati Aoi hancur karena Aoi pun tak menginginkan semuanya terjadi.

Pada akhir cerita, mereka mengikuti predestinasi dan merelakan Aoi tercinta mereka pergi.

MY OPINION
Menurutku segala plot dan dialog sangat on point, meski dalam beberapa adegan aku bisa melihat kecanggungan atau kekakuan para pemain film yang cukup mengganggu. Kejanggalan mengapa piring hitam itu bisa membalikkan waktu juga tidak dijelaskan dan tidak masuk akal—meski tidak mengganggu jalannya cerita secara gamblang.

Aku sangat suka rekaman sebagai hadiah ulang tahun ke seratus dari Aoi untuk Riku. Semua kata-katanya menyentuh, tidak bertele-tele dan terasa sangat murni. Terutama lagu yang digunakan sebagai penutup, liriknya sungguh-sungguh menginspirasi dan menghangatkan hati. Secara sinematik, film ini dibuat dengan estetik. Film dengan rating 86% (menurut Google) ini bisa jadi berhasil mengubah cara pandangku terhadap film Jepang lainnya.

Selamat menyaksikan! 

Comments

About Us | Contact | Privacy Policy
DMCA.com Protection Status

© 2026 CINEMA SPELLS. All Rights Reserved.