Skip to main content

Featured

Cinema Spells | Review Film The Medium 2023: Pengamatan yang Berujung Pembantaian

Source: iMDb / Poster Official The Medium Sebelumnya saat review film Gonjiam: Haunted Asylum aku sempat menyinggung film found-footage yang memiliki kengerian yang sama. Yup, The Medium (2021) yang sama mengerikan dan membuat merinding. Memang efeknya tidak sedramatis Gonjiam: Haunted Asylum yang meninggalkan trauma tersendiri. Akan tetapi film satu ini sangat cukup meninggalkan kengerian dan punya plot menarik karena sedari awal kita dibuat penasaran dengan apa yang sebenarnya tengah terjadi. SYNOPSIS Film ini berawal dari kru dokumenter yang awalnya ingin meliput kehidupan seorang dukun (dukun perempuan) bernama Nim di wilayah Isan, Thailand. Nim terpilih menjadi medium bagi dewa lokal bernama Bayan , posisi yang sebenarnya dulu ditolak oleh kakaknya, Noi . Namun, fokus kamera beralih saat mereka melihat keponakan Nim yang bernama Mink (Narilya Gulmongkolpech) mulai menunjukkan perilaku aneh. Awalnya kru dokumenter meliput Mink karena mereka menduga Mink sedang dalam proses tr...

Cinema Spells: Review Film Me Before You (Ketika Cinta Tak Bisa Menyelamatkan Putus Asa)


Berbagai kisah romansa dari novel sepertinya lebih populer jika memiliki akhir yang tragis atau mengenaskan—yang umumnya berujung kematian. Tak hanya di Indonesia, novel-novel luar negeri pun kerap membuat kisah yang menyayat hati. Seperti Romeo and Juliet, A Walk to Remember, dan Five Feet Apart yang disukai oleh generasi-generasi milenial.

Salah satu film adaptasi dari novel best-seller karya Jojo Moyes ini pun memuat cerita tragis tentang seorang pria yang pupus harapan dan wanita gelataknya.

SYNOPSIS (SPOILER ALERT!) 
Louisa Clark (Emilia Clarke), perempuan yang bisa disebut tulang punggung keluarga itu baru dipecat dari pekerjaannya sebagai pelayan cafe. Bersama keputusasaannya, ia minta bantuan kepada kenalannya untuk mencari pekerjaan lagi. Ketika ia sedang bimbang karena tak ada pekerjaan lagi yang bisa dicoba/dilakukannya, secara tiba-tiba seseorang memosting lowongan kerja yang menyatakan tengah membutuhkan perawat (lebih ke asisten) dari pasien paralisis. Bahkan untuk mendapat pekerjaan itu tak diperlukan kualifikasi khusus. Merasa bila pekerjaan itu akan sempurna untuknya, Lou langsung melamar pekerjaan itu. Maka dia datang untuk wawancara keesokan harinya.

Meski sempat gugup dan sesi wawancaranya sedikit chaotic, Lou diterima dan diperkenankan untuk mulai bekerja saat itu juga—dengan bayaran yang cukup tinggi—oleh sesosok wanita paruh baya. Lou sempat menyinggung pasien dan mengira jika pasien itu merupakan istri dari wanita yang mewawancarainya. Namun rupanya, sosok yang harus ditemani dan dihiburnya merupakan anak dari wanita yang tampak putus asa tersebut.

Lou pun menemui Will Trainor (Sam Claflin), lelaki yang hanya bisa terduduk di kursi roda elektriknya. Will mengalami kecelakaan sepeda motor dua tahun yang lalu, yang mana menyebabkan tubuhnya—dari leher sampai ujung kaki—lumpuh. Ada kecacatan di tulang sumsumnya dan menurut dokter akan mustahil ada kemungkinan untuk sembuh.

Awalnya laki-laki itu bersikap dingin, arogan, dan bahkan apatis akan segala sikap konyol dan riang dari Lou—yang memiliki selera fashion yang nyentrik dan cukup gila. Sepuluh hari pertama terasa amat menyiksa sampai Lou ingin berhenti karena merasa tidak dihargai. Namun dengan dukungan pacar dan saudara kandungnya, juga karena kondisi ekonomi keluarganya, Lou pun memaksa diri untuk tetap bekerja dengan Will.

Keduanya sempat berdebat dan tanpa sengaja Lou mengutarakan bila ia muak dengan sikap dingin dan egois Will. Bahkan dengan putus asa Lou mengaku dia bertahan bukan karena dia peduli dengan Will, akan tetapi sebab ia butuh uang untuk kehidupannya. 

Entah apa yang membuat Will simpati pada perempuan itu, hingga Will mengajak Lou untuk menonton film kesukaannya tak lama setelah perdebatan itu. Will kira ia akan dapat reaksi negatif dari Lou akan film favoritnya, akan tetapi rupanya Lou menyukai itu dan bahkan memiliki pendapat aneh—yang mulai Will pandang berbeda, dan ia menyukainya. Sejak saat itu, keduanya mulai mengakrabkan diri dan Lou menjadi antusias untuk berangkat ke kastil Will setiap harinya. Lou berhasil membuat Will tertawa dan semangat untuk membuka mata setiap paginya.

Hidup selalu penuh kejutan—dan kali ini kejutan untuk Lou adalah mengetahui bahwa Will berniat untuk mengakhiri hidupnya di klinik Dignitas/Exit. Will menyatakan dengan tegas bila tidak ada yang bisa mengubah keputusannya. Maka dari itu Will memberi kedua orang tuanya waktu selama enam bulan. Alasan dari keputusan menyedihkan itu lantaran Will lelah untuk terus menderita karena kelumpuhannya. Ia sudah cukup tersiksa ketika melepaskan mantannya, Alice, yang kini tampak bahagia dengan tunangannya. Ia tak tahan lagi jika harus hidup dengan tekanan obat-obatan dan berbagai terapi yang sama sekali tidak membantunya.

Setelah berlarut dalam kebingungannya dan mendapat semangat dari saudaranya, Lou memutuskan untuk melakukan serangkaian rencana—dalam rangka membuat Will kembali memiliki bergairah untuk hidup lebih pantas. Berbagai hal Lou coba lakukan untuk menghibur Will dari kehampaannya. Lou bahkan tidak masalah untuk melakukan hal yang sama sekali bukan kegemarannya. Perempuan itu sudi untuk keluar dari zona nyaman demi mempertahankan Will di sisinya.

Dari menonton pacuan kuda, menyaksikan pertunjukan musik klasik, berliburan bersama dan bahkan menghadiri pernikahan Alice—Lou coba merancang rencana-rencana itu dengan baik dengan dukungan Nathan (dokter pribadi Will) dan kedua orangtua Will yang menyambut rencana itu dengan sangat baik. Lebih-lebih Lou harus merelakan Patrick, kekasihnya, karena Patrick merasa bila Lou lebih memprioritaskan pekerjaannya (alias Will) dibanding ia dan rencana libur mereka.

Dengan semua pengorbanan dan keputusan yang telah Lou lakukan, ternyata keputusan lelaki itu tidak bisa diganggu gugat. Walaupun Lou telah kerahkan semua tenaga, mencoba segala sesuatu yang ia kira akan berhasil pada akhirnya—Will tetap ingin mengakhiri hidupnya di klinik itu. 

Will justru memberi perintah mutlak agar Lou hidup bahagia dengan cinta barunya dan segera melupakannya.

MY OPINION
Jujur, aku tidak tahu harus merekomendasikan film ini ke kalian atau tidak. Aku tertarik untuk menonton film ini karena direkomendasikan oleh Google setelah aku benar-benar puas menyaksikan The Fault in Our Star. Pun di lain sisi aku mencari inspirasi untuk menyelesaikan proyek rahasiaku, haha.

Kali pertama aku menontonnya, aku merasa senang karena film satu ini memiliki tokoh heroine yang tidak mononton seperti kebanyakan film—yang digambarkan sempurna, feminim, talented, dsb. Kisahnya juga unik, memuat comedi ringan serta sempat mengingatkanku pada cerita Castle yang kubaca di Wattpad di scene-scene awal film. Namun entah mengapa sampai penghujung kisah, aku tidak berhasil menunjukkan sedikit pun emosi sebagai reaksi ketika menonton film ini.

Bisa jadi aku kebingungan dan teralihkan perhatiannya pada Dignitas—komunitas atau apalah itu yang membuat bunuh diri legal dan dapat dilakukan. Karena minim pengetahuan dan sama sekali tidak tahu tentang hal itu, aku justru berusaha berpikir keras dan menjerit dalam hati, "HOW COME ADA KOMUNITAS ATAU TEMPAT KAYAK GITU?"

Tentu, setelah menonton aku segera berliterasi tentang Dignitas. Aku merasa lega namun juga ngeri oleh statement yang mereka junjung tinggi itu. Setidaknya mereka bukan klinik gila karena syarat untuk 'bunuh diri' itu sangat rumit dan panjang, bahkan tetap memastikan apa mereka ingin sungguh-sungguh bunuh diri atau tidak.

Namun entah apa alasan jelasnya mengapa aku sama sekali tidak menangis, padahal chemistry mereka cukup bagus. Terlebih adegan berdansa dengan kursi roda milik Will tersebut yang sempat membuatku terharu. Di lain sisi, ada rasa sesak dan sedih yang teramat jika membayangkan menjadi Will—yang memang benar hanya akan tersiksa menunggu kematiannya tiba. Beban yang dipikulnya cukup besar, lebih-lebih selama hidup dia terbiasa melakukan apa pun dengan tubuhnya yang bugar.

Kekecewaanku dari film ini adalah untuk tidak berhasil membuat aku menangis. Aku belum bersimpati dengan tokoh Will kareka kukira akhirnya akan indah. Selain plot dan karakter tokoh yang kurang kuat, aku pikir tidak ada kekurangan lain dari film yang cukup populer ini. Cukup menghibur jika ditonton sewaktu luang.

Jika kalian tetap penasaran, maka selamat menyaksikan!

Comments

About Us | Contact | Privacy Policy
DMCA.com Protection Status

© 2026 CINEMA SPELLS. All Rights Reserved.