Skip to main content

Featured

Cinema Spells | Review Film The Medium 2023: Pengamatan yang Berujung Pembantaian

Source: iMDb / Poster Official The Medium Sebelumnya saat review film Gonjiam: Haunted Asylum aku sempat menyinggung film found-footage yang memiliki kengerian yang sama. Yup, The Medium (2021) yang sama mengerikan dan membuat merinding. Memang efeknya tidak sedramatis Gonjiam: Haunted Asylum yang meninggalkan trauma tersendiri. Akan tetapi film satu ini sangat cukup meninggalkan kengerian dan punya plot menarik karena sedari awal kita dibuat penasaran dengan apa yang sebenarnya tengah terjadi. SYNOPSIS Film ini berawal dari kru dokumenter yang awalnya ingin meliput kehidupan seorang dukun (dukun perempuan) bernama Nim di wilayah Isan, Thailand. Nim terpilih menjadi medium bagi dewa lokal bernama Bayan , posisi yang sebenarnya dulu ditolak oleh kakaknya, Noi . Namun, fokus kamera beralih saat mereka melihat keponakan Nim yang bernama Mink (Narilya Gulmongkolpech) mulai menunjukkan perilaku aneh. Awalnya kru dokumenter meliput Mink karena mereka menduga Mink sedang dalam proses tr...

Cinema Spells: Review Film Wedding Dress 2010 (Besarnya Kasih Ibu untuk Anaknya)

Entah ini kali ke berapa film Korea berhasil memeras air mata karena plot menakjubkan mereka. Naturalnya acting para aktor-aktris juga piawainya mereka membuat naskah sepertinya memang juara. Lebih unggul dari film western, sungguh! Menurutku ini lebih mengandung bawang dibandingkan Stand By Me—bukan salah satu movie-nya Doraemon yap!


Nyeseknya cerita dari film ini siap untuk menusuk hati kecil kalian bertubi-tubi. Cocok untuk siapa saja yang sedang ingin menangis tanpa alasan.


KESEHARIAN SINGLE PARENTS DAN ANAKNYA

Ko Woon (Song Yun-Ah) adalah perancang busana, khususnya gaun pengantin. Dia sangat unggul mendesain gaun dan sangat sibuk setiap harinya guna mengurus ini-itu dalam butik milik temannya. Saking sibuknya ia, Ko Woon kerap pulang malam dan hampir tidak pernah menghabiskan waktu bersama anaknya.


Sora (Kim Hyang-Gi), anaknya adalah anak manis yang cukup mandiri. Namun sayangnya ia sedikit pemurung dan kurang dekat dengan ibunya. Sesungguhnya Sora sayang dengan ibunya, hanya saja karena jarangnya mereka melewatkan waktu bersama is seolah gengsi jika harus mengungkap rasa cintanya. Sora hanya benci kenyataan di mana Ko Woon enggan menjadi ibu sebagaimana mestinya.


BERUBAHNYA KO WOON SEKETIKA

Tak membawa payung bahkan ketika ramalan cuaca mengatakan akan ada hujan adalah hobi Sora. Karena hal itu ia menunggu di halaman sekolah—mungkin sampai hujan reda baru berjalan pulang. Di satu saat, ketika ia mengulang kebiasaannya itu dan nekat pulang kala masih hujan, sebuah mobil berhenti tak jauh di depannya. Ia tersenyum samar ketika mendapati ibunya di balik jendela mobil tsb.


Tatkala Sora telah duduk di sandingnya, mendadak Ko Woon mencium pipi anaknya tersebut. Bahkan tanpa ragu menyuruh Sora untuk mencium bagian wajahnya yang lain. Merasa aneh—karena sebelumnya tidak pernah demikian, Sora menuruti permintaan ibunya. Lalu mereka pergi dari sana guna menuju ke tempat di mana Sora les balet.


Adanya masalah dengan Gina—teman sekelasnya menyebabkan Sora enggan masuk ke kelas balet hari itu. Meski ia menyukai apa pun yang berhubungan dengan balet, dia memilih bolos ke kelas lain daripada bertemu Gina dkk. Sora malah menghabiskan waktu bersama pria menyedihkan yang sesungguhnya butuh seorang teman. Hal tersebut selalu berulang dan ia berdusta kepada Ko Woon jika selalu mengikuti kelas balet tiap harinya.


Lalu diketahuilah bila Ko Woon menderita kanker lambung. Walau kala itu kankernya baru stadium pertama, Ko Woon merasa waktunya tak lama lagi. Maka ia mulai mengesampingkan pekerjaannya dan justru mengerjakan gaun yang sangat indah, yang dibuatnya untuk Sora. Ia juga mulai menghabiskan waktu bersama Sora, memasak untuk Sora, 'menikah' dengan Sora, bahkan membelikan video game untuk anak tercintanya. Sora yang awalnya skeptis mulai membiarkan Ko Woon mengisi hari-harinya, yang sesungguhnya selalu Sora harapkan.


RAHASIA YANG TERUNGKAP

Seperti film-film penderita kanker pada umumnya, Ko Woon juga menolak untuk bercerita tentang penyakitnya pada Sora. Jung Woon dan Ji Hye—kakak kandung dan kakar iparnya terpukul sekali dengan kenyataan itu. Apalagi mengingat keadaan Ko Woon yang makin memburuk, ibu tunggal itu selalu keras kepala. Tak menghiraukan peringatan dokter yang menuntutnya tak banyak beraktivitas. Sebelum ia mati, Ko Woon ingin setidaknya melihat Sora menari balet juga memastikan Sora dikelilingi oleh banyak teman.


Namun tetap saja pada akhirnya Sora—gadis cerdas itu mengetahui bahwa ibunya tidaklah baik-baik saja. Sora pura-pura percaya bila ketika ibunya muntah, Ko Woon hanya makan terlalu banyak. Sora akhirnya menanyakan kebenaran itu pada Ji Hye, bibinya dan ketakutannya akan kehilangan seorang ibu mencuat secara tiba-tiba. Sora hanya bisa mendoakan ibunya dan tetap pasrah akan apa yang takdir lukiskan.


Dengan bantuan pria menyedihkan yang sebelumnya sudah aku sebutkan, Ji Hoon—Sora berhasil mendapat kelas khusus balet untuk mengejar ketinggalannya. Ia juga memperbaiki hubungannya dengan Gina, sehingga ia tak lagi makan di kantin seorang diri. Ko Woon merasa tenang dan bahagia. Kendati kankernya mulai menyebar dan mengganggu penglihatannya, Ko Woon merasa sangat bangga melihat Sora menari di atas panggung dengan anggunnya.


Hingga pada akhirnya, setelah merelakan semuanya dan mendengar surat dari hati yang ditulis Sora untuknya; Ko Woon berhasil bersua dengan suami tercintanya.


MY OPINION

Kurasa tak perlu lagi ragu akan betapa berdampaknya film-film Korea. Jika sedang ingin menangis, cari saja list film-film yang mengandung bawang di internet. Bahkan mereka sebelas, dua belas dengan karya-karya Thailand yang hampir setara kualitasnya, yang gemar membuat menangis bahkan ketika terlampau bahagia. Intinya, film ini berhasil dengan segala komponen yang ada. 


Karakter Sora masih bisa menggambarkan POV seorang anak, meskipun film ini sudah rilis 16 tahun lalu. Yang alih-alih mengungkapkan rasa sayangnya, anak-anak lebih memilih untuk membentak/menyerukan kata-kata kasar sebagai bentuk gengsinya. Yang terlalu malu untuk mengungkapkan bila ibu adalah yang mereka butuhkan sampai kapanpun itu.


Karakter Ko Woon juga menggambarkan seorang ibu yang benar-benar berjuang dan mempersembahkan hidupnya untuk anak-anaknya. Yang kadang cara mengungkapkan kasihnya berbeda, yang kadang tak sadar mengingatkan anaknya dengan terlalu keras, yang selalu mencintai anaknya apa pun keadaannya.


Semua kenyataan tadi didukung oleh kemampuan akting para pemeran yang sangat-sangat menakjubkan. Bahkan pemeran sampingan seperti paman atau bibi Sora membawakan karakter juga emosi dengan sangat baik. Tak terlihat kecanggungan sedikitpun dari chemistry mereka ketika bersama. Aku seolah melihat drama keluarga langsung dengan mata kepalaku.


Karena ini film klasik juga drama, maka pemilihan suara atau sinematik akan dibuat muram dan kelam. Mereka juga sanggup memenuhi hal-hal ini dengan baik, tak heran mereka mendapat rating 97% menurut google. Kwon Hyung-jin selaku sutradara sanggup mengarahkan para pemain dengan cara yang epik.


Mungkin kekurangan ada pada scene emosional, yang aku harap akan muncul layaknya adegan-adegan Penthouse yang penuh teriakan dan air mata. Meski cukup mengiris hati, adegan akhir terasa kurang dramatis bagiku haha. Selain itu sesungguhnya semua porsi sudah cukup, entah dari POV Sora atau Ko Woon.


RATING

Visul cast: 10/10

Acting + sound effect: 8/10

Plot: 99/10


Sekian review saya hari ini, jangan lupa menyaksikannya ya!😙



Comments

About Us | Contact | Privacy Policy
DMCA.com Protection Status

© 2026 CINEMA SPELLS. All Rights Reserved.