Skip to main content

Featured

Cinema Spells | Review Film The Medium 2023: Pengamatan yang Berujung Pembantaian

Source: iMDb / Poster Official The Medium Sebelumnya saat review film Gonjiam: Haunted Asylum aku sempat menyinggung film found-footage yang memiliki kengerian yang sama. Yup, The Medium (2021) yang sama mengerikan dan membuat merinding. Memang efeknya tidak sedramatis Gonjiam: Haunted Asylum yang meninggalkan trauma tersendiri. Akan tetapi film satu ini sangat cukup meninggalkan kengerian dan punya plot menarik karena sedari awal kita dibuat penasaran dengan apa yang sebenarnya tengah terjadi. SYNOPSIS Film ini berawal dari kru dokumenter yang awalnya ingin meliput kehidupan seorang dukun (dukun perempuan) bernama Nim di wilayah Isan, Thailand. Nim terpilih menjadi medium bagi dewa lokal bernama Bayan , posisi yang sebenarnya dulu ditolak oleh kakaknya, Noi . Namun, fokus kamera beralih saat mereka melihat keponakan Nim yang bernama Mink (Narilya Gulmongkolpech) mulai menunjukkan perilaku aneh. Awalnya kru dokumenter meliput Mink karena mereka menduga Mink sedang dalam proses tr...

Cinema Spells: Review Film The Whole Truth (Teori Lubang Cacing Dengan Bumbu-bumbu Horor Misteri)



Sepertinya membicarakan film horror memang tidak ada habis-habisnya, selalu ada elemen baru yang menarik dan unik yang bisa mendasari film-film horror lain dan menciptakan sensasi ngeri yang bervariasi. Awalnya, saya tidak begitu tertarik melihat film ini—The Whole Truth yang rilis di Netflix tahun 2019—di salah satu saran film google. Namun begitu melihat Punpun Suttaya memainkannya, saya lebih memilih untuk menonton film dengan durasi 125 menit ini dan menunda untuk menonton Filosofi Kopi.

Mari kita bahas film Thailand satu ini secara singkat! Untuk para pembaca yang tetarik untuk menonton dan tak ingin mendapat bocoran, disarankan berhenti membaca di bagian sinopsis.

SYNOPSIS

The Whole Truth bercerita tentang dua kakak adik, Pim dan Putt dan keluarga mereka. Pim adalah seorang cheerleader cantik berbakat yang berprestasi, berbedea dengan Putt—adiknya yang tunadaksa dan kerap dirundung oleh teman-temannya.

Suatu ketika, Ibu mereka—Mai—mendapat promosi dan naik jabatan. Mereka berniat merayakannya setelah Mai pulang kerja. Namun sayangnya, kecelakaan terjadi dan Mai terpaksa harus dirawat di rumah sakit dengan keadaan yang mengenaskan.

Di malam itu juga, seseorang mengetuk pintu rumah mereka dan sosok itu mengaku sebagai Kakek Pim dan Putt. Keduanya terpaksa harus tinggal di rumah kakek-nenek mereka mereka lantaran keadaan Mai tersebut. Pim dan Putt tidak pernah mendengar cerita tentang kakek ataupun nenek mereka, jadi keduanya merasa sangat asing dengan keduanya dan tak kerasan saat berada di rumah itu.

Hal yang paling mengganggu keduanya adalah lubang sebesar bola mata yang berada di salah satu sisi dinding di kamar tamu rumah itu. Nenek dan kakeknya mengaku tak melihat apa-apa di dinding itu, yang membuat keduanya bingung sekaligus gusar. Dengan nekat, keduanya pun mencalang melalui lubang itu. Lubang itu sering membuat mereka bertanya-tanya, karena apa yang ada di balik sana—yang sering mereka intip—bukan sesuatu yang ada di dunia ini. Anak perempuan yang nyalar mereka lihat terus meneror keduanya sampai di titik mereka sadar, semua itu adalah cara sesosok anak perempuan untuk menyampaikan pesan pada mereka.

Siapa sangka jika hal yang ada di balik lubang adalah dimensi lain yang menunjukkan realita beberapa tahun silam pada keduanya. Semua rahasia terungkap dari sana; kejahatan yang pernah dilakukan keluarga kecil itu.

MY OPINION

TWISTED! Aku sukses dibikin tercengang oleh ending yang disajikan dari film tersebut. Sensasinya berbeda dari film-film misteri lainnya dan aku tidak pernah memprediksi itu.

Beberapa reviewer mengatakan bila film ini terlalu banyak mencantumkan adegan tidak penting atau beberapa bagian terlalu lama dan bertele-tele, namun menurutku pribadi itulah cara mereka mengemas cerita yang membuat kita menaruh simpati pada para karakter dan makin tenggelam pada cerita tersebut. Meski beberapa bagian lumayan cringe dan questionable, seperti adegan muntahan darah yang too much, saya rasa film ini pantas mendapat rating yang lebih tinggi dari itu. 

Seperti Affliction yang dimainkan Ibnu Jamil, di mana si Nenek memderita Alzheimer—The Whole Truth juga menyajikan sensasi yang sama. Serupa juga dengan film The Visit, meski lebih brutal dari keduanya. Saya mengagumi acting Tarika Titatid yang bisa memerankan karakter Wan dengan sangat baik.

Untuk seni sinematografi, aku sangat suka adegan transisi ketika mereka mengintip melalui lubang cacing itu. Kestabilan dan kenaturalan penangkapan film juga membuat saya seolah berada di sana, merasakan sensasinya tanpa perlu dipaksa.

Tak terpaku pada horror, film ini juga menceritakan sedikit sisi gelap dunia kepolisian, pengkhianatan seorang sahabat, seramnya pertemanan di masa sekarang, dan bahkan kasih sayang orang tua pada anaknya—yang dalam kasus ini, over and kinda creep.

Bisa dibilang saya tidak terima saat mengetahui rating film tersebut terlalu rendah, padahal dari tone film, alur, emosi, dan kemampuan para aktor sudah sangat-sangat baik. Film ini pantas mendapatkan lebih banyak apresiasi. 

Comments

About Us | Contact | Privacy Policy
DMCA.com Protection Status

© 2026 CINEMA SPELLS. All Rights Reserved.