Featured
- Get link
- X
- Other Apps
Cinema Spells: Review Film 'A Minecraft Movie' (Dunia Tanpa Batas & Penuh Nostalgia)
Tak pernah terlintas di benakku kalau Minecraft, gim dengan banyak memori sewaktu kecil, akan diadaptasi menjadi sebuah film layar lebar. A Minecraft Movie menjadi tajuk utama dalam film berdurasi 1 jam 41 menit ini. Pemilihan pemerannya pun cukup mengejutkan dan diisi nama-nama populer seperti Jack Black, Jason Momoa, dan Emma Myers.
SYNOPSIS
Film ini mengisahkan Henry (Sebastian Eugene Hansen), seorang anak genius, dan kakaknya, Natalie (Emma Myers), yang harus pindah kota demi pekerjaan sang kakak. Hidup berdua membuat Natalie menjadi sangat protektif, yang tanpa sadar membatasi kreativitas Henry dalam bereksperimen.
Di sisi lain, ada Garrett "The Garbage Man" Garrison (Jason Momoa), seorang ahli gim yang terlilit utang, serta Dawn (Danielle Brooks), pengusaha properti sekaligus pengelola kebun binatang berjalan yang simpatik. Dawn adalah pemilik rumah yang ditempati Henry dan Natalie, sementara Garrett adalah sosok yang dikagumi Henry sebagai mentor.
Keempatnya tiba-tiba terlempar melalui portal ke Overworld, dunia Minecraft yang kotak-kotak tanpa batas, di mana kreativitas dibebaskan sepenuhnya. Sayangnya, mereka terjebak dan harus bertahan hidup melawan pasukan Piglin pimpinan Malgosha yang ingin mengubah Overworld menjadi seperti dunia mereka, Nether. Mereka kemudian bertemu Steve (Jack Black), penjelajah senior yang memahami seluk-beluk dunia tersebut. Bersama-sama, mereka berperang melawan penghuni Nether—mulai dari Skeleton, Creeper, hingga Zombie—demi menyelamatkan Overworld.
MY OPINION
Sebagai penonton yang menghargai plot dan backstory, aku cukup kaget dan sedikit kecewa dengan hasil garapan Warner Bros. Pictures dan Legendary Pictures ini. Namun, justru itulah yang membuat A Minecraft Movie unik. Film ini terasa absurd dan kocak, seolah dibuat tanpa tujuan naratif yang kuat meski menghabiskan biaya produksi sekitar USD 150 juta (Rp2,4 triliun). Anggaran sebesar itu terasa kontras dengan dialog yang sering kali tanpa arah, terutama pada adegan kepala sekolah Henry dan Villager yang muncul tiba-tiba.
Meski plot dan chemistry antartokoh terasa berantakan, aku sangat menyukai visualisasi dunia Overworld yang dipadukan dengan tokoh real-life. Bayanganku soal Minecraft tercurahkan dengan sempurna: interaksi Villager, pemandangan alamnya, elemen seperti lever dan mining train, hingga perilaku monster-monsternya. Semuanya sukses membuatku rindu bermain gim ini lagi.
Membangun alur dari gim yang backstory-nya minim memang tantangan besar. Film ini sepertinya memang menyasar penonton anak-anak dan remaja. Bagi penonton dewasa, film ini mungkin terasa membingungkan, cringe, atau bahkan seperti kumpulan shitpost dan meme. Namun, bagi banyak fans, film ini tetap memikat. Faktanya, film ini sukses menjadi film terlaris kedua pada tahun 2025 dan adaptasi gim terlaris kedua sepanjang masa setelah The Super Mario Bros. Movie.
Tentu film ini bukan menjadi hal yang favorit bagiku. Untuk kelompok orang yang bisa enjoy film tanpa ingin mendapatkan sesuatu yang berarti atau hanya penasaran, tidak ada salahnya menonton film ini. Lumayan menghibur dan mengisi hari. Melainkan untuk kelompok orang yang mengharapkan dan ingin menyaksikan sebuah masterpiece, film kali ini tidak aku sarankan. Cukup ditonton satu kali.
Kabar-kabarnya mereka sudah menyiapkan sekuel dari film ini. Aku cukup penasaran dan sepertinya tertarik untuk menonton, sih, haha. Mari kita nantikan apa yang mereka sajikan nanti!
- Get link
- X
- Other Apps
Popular Posts
Cinema Spells: Review Film The Exorcism of God (Dosa yang Menghantui dan Membunuhmu Perlahan)
- Get link
- X
- Other Apps
Cinema Spells: Review Film Bridge to Terabithia (Imajinasi Indah yang Menemui Gundah)
- Get link
- X
- Other Apps
Comments
Post a Comment