Featured
Cinema Spells | Review Film The Book of Life 2014: Ketika Cinta Memenangkan Segalanya
| Source: Kinorium / The Book of Life Poster Official |
Ternyata untuk memenangkan hidup tak perlu muluk-muluk. Melainkan jadi diri sendiri saja jauh lebih cukup. Kelak semesta akan menerimamu apa adanya jika dirimu pun berani mengakui dirimu sendiri. Semua pernyataan itu dialami oleh Manolo di cerita menakjubkannya dalam film The Book of Life (2014) yang begitu ajaib dan indah di saat yang bersamaan.
SYNOPSIS
Hanya sejumlah anak kecil yang mengunjungi museum dan tour guide-nya mengisahkan tentang apa itu The Book of Life. Dikisahkan tiga anak kecil, Maria (Zoe Saldana), Manolo (Diego Luna), dan Joaquin (Channing Tatum) yang sedari kecil selalu bersama. Lucunya, Manolo dan Joaquin sudah jatuh cinta dengan Maria sejak kecil dan mengajaknya menikah.
Selagi asyik-asyiknya mereka bermain bersama, ada La Muerte (Kate del Castillo) sang penguasa Land of the Remembered dan suaminya, Xibalba (Ron Perlman) sang penguasa Land of the Forgotten yang juga sepasang kekasih yang suka bertengkar. Lalu mereka iseng bertaruhan anak mana yang akan menikahi Maria: si Manolo atau Joaquin.
La Muerte menjagokan Manolo, anak keluarga Sanchez yang sepatutnya menjadi pembasmi banteng, akan tetapi dia lebih tertarik untuk bermain musik. Sedang Xibalba menjagokan Joaquin, laki-laki sok jago yang suka bertengkar dan narsistik.
Maria, anak wali kota itu, harus pergi ke Eropa untuk belajar selama bertahun-tahun. Maka berpisahlah mereka bertiga. Manolo memberi Maria babi (bernama Chuy), sedang Maria memberi Manolo gitar. Gitar itulah yang selalu Manolo mainkan sepenuh hati karena ada ukiran dari Maria yang mengatakan "Mainlah selalu dari hati". Sedang di lain sisi, Xibalba dengan curangnya memberi Medali Keabadian (Medal of Everlasting Life) kepada Joaquin sehingga laki-laki itu jago bela diri dan tak pernah terluka.
Tahun demi tahun berganti, lalu tibalah masa di mana Maria datang kembali ke kota mereka. Manolo dan Joaquin berlomba-lomba untuk memenangkan hati gadis itu dengan cara mereka masing-masing. Padahal, di sisi lain ada bandit bernama Chakal yang ingin menyerang kota, terlebih saat tahu bila medali keabadian ada di tangan Joaquin. Namun di tengah situasi genting itu, bisa-bisanya Xibalba masih berbuat curang dan membuat Manolo mati karena tongkat ular yang diutusnya.
MY OPINION
Film yang rilis tahun 2014 ini tak disangka-sangka memiliki kisah yang tak begitu rumit akan tetapi sangat menyenangkan. Mengingatkanku pada animasi Coco (2017), meski faktanya film ini rilis duluan, mungkin karena dari latar kebudayaan yang sama (Meksiko) dan mengambil kisah di dunia kematian atau after-life. Fantasi yang seru dan memanjakan mata!
Aku paling suka dengan karakter La Muerte yang digambarkan seperti perempuan yang elegan tapi tegas dan berkuasa. Tentu saja selayaknya Maria yang berkelas saat sadar diperebutkan oleh Manolo dan Joaquin yang juga sahabat kecilnya. Aku suka adegan-adegan Manolo bernyanyi juga, terutama scene dia melantunkan lagu "Creep" (keren banget dengerin lagu Radiohead versi mariachi!). Lagu lainnya asyik-asyik juga. Mengandung twist yang seru dan menggembirakan. Worth to watch!
Popular Posts
Cinema Spells: Review Film The Exorcism of God (Dosa yang Menghantui dan Membunuhmu Perlahan)
- Get link
- X
- Other Apps
Cinema Spells: Review Film Bridge to Terabithia (Imajinasi Indah yang Menemui Gundah)
- Get link
- X
- Other Apps
Comments
Post a Comment